Perlukah guru belajar lagi?

Sebagai manusia biasa, kita pasti akan belajar dan diajari dari banyak hal di kehidupan kita. Entah di keluarga sebagai pengajar bagi adik yang sekolah, atau sebagai teman yang sudah mengerti pelajaran kemudian diminta mengajarkan. Bahkan, sesederhana tahu akan sebuah cara untuk melawan bos tertentu pada permainan daring yang sedang kita mainkan. Setelahnya timbul pertanyaan. Perlukah bagi orang yang mengajarkan (read: guru) belajar sebelum mengajarkan sesuatu?

Pelajaran atau edukasi sangat penting bagi manusia. Meski begitu, perkembangannya selalu mengikuti jaman. (Harlan, 2014) Begitu juga nampaknya dengan cara mengajarkan orang. Pernah mencoba untuk mengajarkan orang tapi akhirnya tidak berhasil? Ada beberapa pendekatan yang perlu kita tekankan saat mengajarkan orang lain. Beberapa di antaranya adalah :

  1. Coba lihat selalu dari sudut pandang orang lain
    Bagaimana keadaan orang yang kita ajari? Bahasa seperti apa yang harus dipakai? Perlu pakai permisalan apa agar mereka paham? Semua pertanyaan ini bisa dijawab ketika kita mampu melihat sudut pandang mereka. Membayangkan adalah hal yang paling sederhana dilakukan. Bisa dengan memejamkan mata beberapa menit, kemudian memvisualisasikannya. (Byrne, 2006) Dari visualisasi tersebut, kita akan dapat gambaran dan cara terbaik mengajarkannya.

  2. Coba sampaikan dengan ringkas
    Di jaman yang serba instan ini, orang sangat suka melewati jalan pintas. Apapun yang diringkas, nampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang. Dalam sebuah ungkapan disebutkan bahwa “Brevity is levity” (Nihill, 2015), yang artinya ‘keringkasan itu kekuatan/mengangkat’. Tentu maksudnya adalah sesuatu yang ringkas, to the point, akan lebih menarik ketimbang yang bertele-tele.

  3. Coba sampaikan dengan cerita
    Banyak sudah bukti yang dikumpulkan para ilmuwan tentang otak manusia yang imajinatif. Setiap orang berbeda-beda, tapi ketika menuju kepada sebuah informasi, manusia sangat mudah menangkapnya dalam bentuk imajinasi. Bentuk termudah yang bisa diterima dalam bentuk imajinasi adalah cerita (Gallo, 2014)

References
Byrne, R., 2006. The Secret. 10 ed. New York: Atria books.

Gallo, C., 2014. Talk Like TED. 1st ed. London: St. Martin Press.

Harlan, R. J. &. J., 2014. Education Nowadays. Trans Stellar, 4(1), pp. 53-56.

Nihill, D., 2015. Do You Talk Funny. 1 ed. San Fransisco: BenBella Books.

Posted in Umum on Mar 17, 2020